Pada kegiatan pertandingan Mahjong SMAK St. Louis 1, saya dan tim memulai dengan semangat yang tinggi dan antusias mengikuti kegiatan dalam pelajaran mandarin yang menarik ini. Namun, di babak penyisihan kelompok, saya harus mundur dan tidak dapat mengikuti babak berikutnya. Terdapat rasa kecewa karena harus gugur di babak pertama dan belum dapat memberikan kontribusi maksimal bagi tim, saya memilih untuk beralih peran dan mengambil bagian dalam side quest yang akan diselenggarakan pada hari pelaksanaan dimana terdapat 1 perwakilan antar kelompok yang akan bertanding dalam kelas.
Di side quest tersebut, teman saya mengusulkan untuk membuat dua hidangan khas Tiongkok: Nasi Goreng Zhou dan Lion’s Head Meatballs. Setelah membaca sejarah singkatnya, saya pun menyetujui pilihan tersebut. Nasi Goreng Zhou berasal dari tradisi masyarakat Tiongkok kuno yang menumis nasi sisa untuk menghindari pemborosan, sementara Lion’s Head Meatballs, berupa bakso berukuran besar, melambangkan kekuatan dan kebersamaan. Kedua hidangan ini tidak hanya cocok untuk dipertemukan di mulut secara bersamaan, tetapi juga mengandung nilai budaya yang mendalam
Kami pun berdiskusi merencanakan segala kebutuhan, mulai dari peralatan yang harus dibawa, bahan-bahan yang diperlukan, hingga tempat yang diperlukan untuk membagi hidangan tersebut kepada warga SMAK St. Louis 1. Saya turut serta menyiapkan perlengkapan dan memastikan seluruh kebutuhan telah lengkap agar proses berjalan lancar.
Hari Pelaksanaan: Tanggal 26 September 2025
Saat hari pelaksanaan, 26 September, saya membawa kamera digital untuk membantu mendokumentasikan seluruh kegiatan. Saya memotret proses memasak, penyajian, hingga momen ketika saya membagi dan memperkenalkan hasil kerja kelompok kepada para guru penilai.
Pada saat itu, melihat sudah banyak teman yang mengambil peran dalam memasak ada yang memotong, menggoreng, hingga meracik bumbu. Karena terlalu banyak yang terlibat di dapur, saya memilih untuk fokus mendokumentasikan dan membantu membagikan makanan agar semua pekerjaan dapat selesai tepat waktu menjadi lebih efisien.
Salah satu momen paling berkesan waktu membagikan makanan adalah ketika saya membagikan makanan kepada Bu Lis, guru yang sangat teliti dan cukup ketat dalam menilai. Saya berusaha menjelaskan sejarah makanan kami dengan detail agar beliau bisa memahami nilai budaya di baliknya sehingga ia dapat menikmati makanan dan memberikan penilaian yang baik untuk kelas kita. Bu Lis bukan hanya mau menilai dari rasa makanan nya saja namun seluruh aspek yang ada di kertas penilaian mulai dari pelayanan siswa terhadap guru, kenyamanan di lingkungan stan, kebersihan di lingkungan stand, kepuasan terhadap makanan yang dihidangkan, dan CCVV dengan detail sehingga mendatangi stand kita masak dan bermain mahjong.
Berbeda dengan Bu Dinda yang sedang diet sehingga sedang tidak mengkonsumsi daging babi. Bu Dinda sempat menanyakan pendapat Bu Cus tentang rasa masakan kami sebelum menilai, tapi saya tetap menjelaskan asal-usul dan filosofi makanan itu dengan sopan.
Bu Cus sendiri lebih memperhatikan bahan-bahan yang digunakan. Beliau memuji rasa masakan kami, terutama karena lap cheong yang kami pilih punya cita rasa yang enak. Sementara itu, Bu Monic memberi masukan bahwa nasi goreng Zhou kami sedikit amis dan itu jadi catatan penting untuk memperbaiki cara memasak supaya hasilnya bisa lebih maksimal. Terakhir, Bu Diyah yang juga sedang diet tetap bersedia mencicipi sedikit dan memberi penilaian dengan baik.
Dari seluruh proses ini, saya belajar bahwa kontribusi tidak selalu berarti ikut dalam lomba utama. Lewat side quest ini, saya justru menemukan arti kerja sama, tanggung jawab, dan kreativitas. Saya berusaha agar para guru bisa menikmati dan memahami makanan yang kelas kami sajikan, karena penilaian bukan cuma soal rasa, tapi juga usaha dan cara kami menyampaikan maknanya.
Meskipun saya sempat kalah di pertandingan Mahjong, pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap kesempatan untuk terlibat, sekecil apa pun, tetap bisa jadi bentuk kontribusi yang berarti bagi kelompok dan kelas.