Artikel Cerita Kuliner Tim (Yangzhou Fried Rice dan Lion’s Head Meatball) – Kelompok 4

Nasi goreng Yángzhōu ( 揚州炒飯 )

Nasi goreng Yángzhōu ( 揚州炒飯 ) adalah hidangan nasi goreng wajan tiongkok yang populer. Nasi goreng ini merupakan masakan yang berasal dari sebuah kota kuno di persimpangan  Sungai Yangtze dan Kanal besar di Tiongkok Timur. Perbedaan antara nasi goreng Yangzhou dengan nasi goreng lainnya yaitu nasi goreng Yangzhou selalu mengandung kombinasi protein, contoh kombinasinya seperti daging babi dengan udang, atau ayam dan bebek panggang. Nasi goreng Yangzhou ini dibuat pada masa dinasti Qing dan diciptakan oleh pejabat Qing Yi Bingshou. Awalnya nasi goreng ini diberi nama dengan Nasi goreng Yangzhou Chaofan. Nasi goreng tersebut berbahan utama seperti nasi putih dingin, telur orak arik, macam-macam daging, wortel, kacang polong, dan daun bawang. Rasa dari Nasi goreng ini juga pastinya sangat enak, lembut dan seimbang. Alasan nasi goreng tersebut dibuat karena orang Tiongkok memiliki kebiasaan untuk tidak membuang makanan. Oleh karena itu, Yi Bingshou memiliki ide untuk membuat sebuah nasi goreng yang berasal dari nasi putih dingin yang biasanya seringkali di buang. Nasi putih yang dingin tersebut dikombinasi lagi sehingga lebih kreatif dan estetika.

Pada masa dinasti Qing, Yangzhou dikenal sebagai kota makmur dan pusat budaya kuliner, sehingga banyak koki istana dan bangsawan yang berinovasi menciptakan hidangan baru. Yi Bingshou pun ikut membuat sebuah inovasi dari masakan nasi goreng dengan menumis bahan-bahan seperti nasi putih dingin, sayuran, telur, dan beberapa macam daging, maka terbentuklah nasi goreng yang enak. Sejak saat itu resep nasi goreng ini menyebar ke berbagai daerah hingga beberapa negara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia dan lain-lain. Sekarang nasi goreng sudah dikenal oleh berbagai negara di dunia dan dijadikan sebagai nasi goreng klasik yang melambangkan keahlian memasak tradisional Tionghoa.

Bakso kepala singa/Shīzitóu ( 獅子頭 )

Bakso kepala singa atau Shīzitóu ( 獅子頭 ) adalah hidangan dari masakan Huaiyang di Tiongkok Timur, terdiri dari bakso babi atau sapi berukuran besar yang direbus dengan sayuran. Hidangan ini juga bisa disiapkan dengan daging sapi atau dibuat sebagai hidangan vegetarian. Hidangan ini berasal dari Yangzhou dan Zhenjiang dan dalam jumlah yang lebih kecil. Bakso kepala singa ini dibuat oleh koki istana Dinasti Tang di daerah Yangzhou untuk santapan para bangsawan. Alasan makanan tersebut dibuat adalah keinginan para koki istana Tiongkok kuno untuk menciptakan hidangan istimewa yang mewah dan bermakna kekuatan, kemakmuran dan kebersamaan keluarga bangsawan Tiongkok pada masa lalu.

Bakso kepala singa sudah ada sejak Dinasti Tang pada tahun 618 hingga 907 Masehi. Hidangan tersebut awalnya dibuat di kota YangZhou, yang merupakan pusat perdagangan dan tempat berkumpulnya pada juru masak istana. Nama “Kepala singa” diberikan karena ukuran baksonya yang besar dan bentuknya yang tidak bulat sempurna, menyerupai kepala singa dengan “surai” yang diibaratkan dari sayur-sayuran di sekitarnya. Dalam budaya Tionghoa, singa melambangkan kekuatan dan keberanian. Bakso kepala singa sering disajikan dalam perayaan keluarga besar seperti Tahun baru Imlek atau perjamuan pernikahan, karena melambangkan persatuan dan kekuatan keluarga. Akibat ukurannya yang besar melambangkan “Kemewahan” dan “Kelimpahan rezeki”, beberapa daerah mempercayai makanan tersebut juga membawa keberuntungan dan perlindungan bagi keluarga. Seiring berjalannya waktu, bakso kepala singa menyebar ke berbagai wilayah Tiongkok, seperti Shanghai dan Nanjing, hingga akhirnya masuk ke berbagai negara di dunia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *