Nasi Goreng Yangzhou 扬州炒饭
Nasi goreng Yangzhou (扬州炒饭) adalah salah satu jenis masakan nasi goreng yang paling terkenal di Tiongkok. Awal mula masakan ini dimulai pada masa Dinasti Sui. Pada saat itu, Kaisar Yang dari Dinasti Sui sedang melakukan perjalanan ke Selatan. Agar penyajian makanan selama perjalanan lebih mudah, koki istana menggoreng nasi sisa bersama daging, sayuran, dan telur. Inilah awal mula diciptakan nasi goreng Yangzhou yang kemudian menyebar ke wilayah Jianghuai.
Akan tetapi, nasi goreng Yangzhou belum dikenal secara luas pada masa itu. Popularitas nasi goreng Yangzhou baru meningkat pada masa Dinasti Qing, era Kaisar Qianlong berkuasa. Saat Kaisar Qianlong mengunjungi bagian Selatan Sungai Yangtze untuk keenam kalinya, ia mengunjungi Yangzhou dan mencicipi nasi goreng telur yang dibuat oleh koki lokal Yangzhou. Kaisar Qianlong menyukainya dan memberikan pujian tinggi atas masakan tersebut. Setelah kejadian tersebut, nasi goreng itu dinamai “Yangzhou fried rice” atau “扬州炒饭” dan menjadi sangat terkenal. Yangzhou sendiri sudah dikenal sebagai kota yang memiliiki koki handal sebelumnya, sehingga kepopuleran masakan ini semakin meningkat.
Pada masa akhir Dinasti Qing, seorang koki ternama dari Yangzhou bernama Xie Ting menyempurnakan nasi goreng Yangzhou. Ia menambahkan udang, daging babi panggang, ham, telur, kacang polong, wortel, dan bahan-bahan lainnya. Xie Ting kemudian mengenalkan versi nasi goreng Yangzhou yang telah disempurnakan ini kepada restoran-restoran mewah di Shanghai dan memperoleh popularitas besar dengan cepat.
Kepala Singa 狮子头
Kepala Singa (狮子头) adalah salah satu masakan tradisional dari Shandong. Dalam dialek utara, masakan Kepala Singa atau Lion’s Head ini dikenal sebagai “Bakso Besar” atau “Bakso Empat Kelezatan”.
Awal mula masakan ini dimulai pada masa pemerintahan Kaisar Yang dari Dinasti Sui. Koki istana bernama Zhan Wang menciptakan empat masakan terkenal untuk sang kaisar dengan penuh ketekunan, yaitu Ikan Mandarin Berbentuk Tupai, Kue Udang Berbentuk Koin, Irisan Ayam Seputih Gading, dan Daging Cincang Berbentuk Bunga Matahari. Kaisar Yang sangat menyukai keempat masakan tersebut dan langsung mengandakan jamuan bagi para menterinya. Akibatnya, keempat masakan ini menjadi makanan mewah yang terkenal dan istimewa.
Suatu hari pada masa Dinasti Tang, Adipati Xun mengadakan jamuan besar dan memerintahkan koki terkenalnya, Wei Juyuan untuk menyiapkan empat masakan terkenal tersebut yang disajikan menggunakan piring berlapis emas dan mangkuk bertepi giok. Empat hidangan terkenal itu disajikan bersama aneka makanan langka dari pegunungan dan lautan yang membuat setiap tamu terkagum-kagum. Lalu, ketika Daging Cincang Berbentuk Bunga Matahari disajikan, perhatian semua orang tertuju pada sebuah bakso besar menyerupai kepala singa yang terletak di bagian tengahnya.
Adipati Xun, seseorang yang sepanjang hidupnya berjaya di medan perang pun dipuji oleh para tamu, “Yang Mulia pantas menerima Segel Jenderal Singa Sembilan Kepala!”. Sang Adipati lalu mengangkat cawan anggur miliknya dan meminumnya hingga habis. Ia berkata, “Untuk mengenang perjamuan ini, mari kita ganti nama masakan ini dari Daging Bunga Matahari menjadi Kepala SInga”.
Pada masa Dinasti Qing, Kaisar Qianlong memperkenalkan masakan ini kepada ibu kota dan menjadikannya bagian dari santapan istana kekaisaran.
Pada masa pemerintahan Kaisar Jiaqing, penyair Lin Lanci dari Ganquan menyanjung masakan ini dalam puisinya yang berjudul “Tiga Nyanyian Hanjiang”.
Dalam pendahuluan puisinya, Lin Lanci menulis, “Daging yang dicincang halus lalu dibentuk menjadi bola, digoreng dengan minyak hewani dan nabati hingga berwarna kuning seperti bunga matahari — biasa disebut Bakso Bunga Matahari”.
Dalam bait puisinya, Lin Lanci menulis, “Pisau koki tamu menari dengan presisi, membentuk bola-bola bak bunga matahari dengan cekatan. Meski perut kenyang, tetap teringat hangatnya mentari, siapa di antara pemakan daging yang mampu menandingi kebajikan ini?”
Hingga saat ini, Kepala Singa telah menjadi masakan yang tidak kalah penting dari pangsit saat perayaan Tahun Baru Imlek. Masakan ini melambangkan empat berkah besar dalam hidup, yaitu keberuntungan, pangkat, panjang umur, dan kebahagiaan. Biasanya disajikan sebagai hidangan penutup utama dalam jamuan pesta pernikahan dan ulang tahun untuk menyampaikan pesan doa keberkahan.